Sejarah Kelurahan

Sutojayan berasal dari kata Suto dan Joyo mendapat akhiran N. Suto dalam bahasa Jawa berarti Anak, sedangkan Joyo berarti Kanugrahan atau Kebahagiaan. Sebelumnya daerah Blitar Selatan merupakan hutan belantara yang lebat, dalam Bahasa Jawa Alas Gung Lewang Lewung, Jalmamoro Jalmo Mati, Sato Moro Sato Mati.

Berawal dari perang Diponegoro, dimana banyak Putra Raja dan Pengikutnya baik dari Keraton Surakarto Hadyningrat dan Ngayogjokarto tidak mau bekerja sama dengan Pemerintah Hindia Belanda (Non Kooperatif), dianggap pemberontak dan dikejar-kejar oleh Kompeni.

Untuk menyelamatkan diri para Putra Raja beserta Pengikutnya sampai ke wilayah Jawa Timur menyebar mulai dari Tulung Agung di daerah Demuk yaitu Pangeran Jayeng Kusumo, agar tidak diketahui oleh Belanda namur saliro (bahasa Jawa)dengan mengganti nama dikenal oleh masyarakat sebagai mbah Edos atau mbah Blenger. Adapun yang sampai ke wilayah Lodoyo yang bertempat di Sukoanyar atau Sukorejo Pangeran Adiningrat, tidak beberapa lama anak keponakannya yang bernama Pangeran Jayaningrat menyusul jejak Pamannya dan disuruh babat hutan di daerah selatan untuk dijadikan pemukiman yaitu di Kepek.

Dari siilah awal lahirnya Desa/Kelurahan Sutojayan dimana Putra Keraton menyebar di seluruh wilayah Lodoyo selain Pangeran Adiningrat dan Pangeran Jayaningrat di wilayah Wonotirto, tepatnya di desa Banjarsari. Pangeran Tirto Mangun Kusumo yang dikenal dengan nama Eyang Demang Ngekul ternyata Paman dari Pangeran Sastro Hadi Negoro adipati Blitar.

Pangeran Jayaningrat siang babat hutan dan malamnya tidur di atas pohon, karena suasana gelap, sunyi banyak pemangsa di malam hari berkeliaran yang terdengar hanyalah suara binatang penghuni hutan.Untuk menghibur hati dan seolah olah ada temannya, maka Pangeran Jayaningrat ndalang, adapun gamelan pengiringnya juga suaranya sendiri.Saat sedang asyik tiba-tiba terdengarlah suara memanggil namanya.” Ngger Jayaningrat sajak sajak kerenan banget penggalihmu, ikilo supoyo mundak rengeng, gumyek, ayem, temtrem gremboko, tak pariingi batur” (Jayaningrat tampak senang sekali hatimu,ini supaya tambah rame sejahtera,aman, berkembang, saya kasih teman) Sang Pangeran terkejut sebab suara itu jelas suara Kakek Buyutnya Paku Buwono I ya Pangeran Puger.

Pagi harinya di ranting pohon Serut ditambatkan sebuah Gong Pusaka yang dikenal Pusaka Gong Kyai Baradah/Pradah. Adapun Pusaka ini konon milik Pangeran Puger yang bergelar Paku Buwono I. Karena takut dituduh mencuri benda Kerajaan/Keraton maka Pangeran Jayaningrat menghadap Pamannya Pangeran Adiningrat di Sukoanyar/Sukorejo, menceritakan semua peristiwa semalam. Akhirnya paman dan bibinya menghantarkan Pangeran Jayaninigrat menghadap sowan ke Keraton, menceritakan peristiwa tersebut kepada Raja apabila ada marahnya Sang Raja bibinya siap menerima hukumannya. Tetapi justru mendapat restu babat hutan di beri Putri Keraton sebagai istri dan pengikutnya untuk membuka pedesaan.

Eyang Donokerti sareannya di makam umum Sentono merupakan senopati pengikut Pangeran Jayaningrat juga abdi dalem setia ikut babat wilayah Sutojayan , adapun tumbak andalannya disandarkan pada sebuah pohonLo di tepi sungai yang bercabang. Akibatnya pohon Lo tersebut menjadi condong/ doyong, maka daerah dinamakan LODOYO karena pohon Lo yang doyong,utara sngai dinamakan Desa Kalipang artinya sungainya nyabang, selatan sungai dinamakan Desa Sutojayan artinya anak yang mendapat anugrah dan kejayaan.Adapun Pusaka Gong Kyai Baradah/Pradah pemberian dari eyangnya Pangeran Pugeryg bergelar Pangeran Pakubuwono I tetap berada di wilayah Lodoyo sebagai Pusaka Pepunden  juga sebagai bukti sejarah bahwa di wilayah Lodoyo juga ada trah/keturunan raja dari Ngayogjokato dan Surokarto Hadiningrat.Dimana setiap tanggal 15 Maulud juga bulan Syawal disirami/disucikan.dengan bunga/sekar setaman diiringi upacara adapt dan disaksikan oleh Masyarakat Lodoyo dan sekitarnya bahkan yg hadir orang dari luar wilayah Blitar.               

Demikianlah sejarah lahirnya Kelurahan Sutojayan yang diiringi sejarah lahirnya Desa Kalipang dan Kota Lodoyo. Adapun Nara sumbernya sesepuh juga aji sepuh yang tidak berkenan disebut namanya. Mungkin tulisan ini jauh dari sempurna namun, penulis telah berusaha maksimal. Kami tetap akan menerima kritik, saran, pendapat, masukan demi lebih sempurnanya sejarah lahirnya Kelurahan Sutojayan.

Sejarah Pemimpin Kelurahan

Kelurahan Sutojayan pernah dipimpin oleh beberapa orang. Adapun urutan pemimpinnya adalah sebagai berikut :

1.  Bapak Atmo                       : tahun 1920 s/d 1930
2.  Bapak Astro Sentono      : tahun 1930 s/d 1931
3.  Bapak Kuswadi                : tahun 1931 s/d 1949
4.  Bapak Purboyo                : tahun 1949 s/d 1983
5.  Bapak Mujiono                 : tahun 1983 s/d 1985
6.  Bapak Subianto               : tahun 1985 s/d 1990
7.  Bapak Samidi                   : tahun 1990 s/d 1995
8.  Bapak Suyanto                 : tahun 1995 s/d 1996
9.  Bapak Agus Budi              : tahun 1996 s/d 1997
10. Bapak Koseri                     : tahun 1997 s/d 2000
11. Bapak Edi Susanto            : tahun 2002 s/d 2002
12. Bapak Suwignyo              : tahun 2002 s/d 2010
13. Bapak Tuwanto                : tahun 2010 s/d 2012
14. Bapak Sugeng                  : tahun 2012 s/d 2019
15. Bapak Suwoko                   : tahun 2019 s/d 2025
16. Bu Heny Widyawati S.      : tahun 2025 s/d sekarang